Sabtu, 28 Agustus 2010

STANDARISASI ROHANI MENJADI SEORANG PELAYAN MUSIK



STANDARISASI ROHANI MENJADI SEORANG PELAYAN MUSIK
Ada syarat-syarat tertentu yang ditentukan oleh masing-masing gereja berhubungan dengan pelayanan musik. Seseorang yang terlibat dalam pelayanan musik setidaknya sudah mengenal Kristus secara pribadi. Mengenal Kristus yang dimaksudkan bisa digolongkan seseorang yang telah lahir baru di dalam Tuhan, memiliki relasi yang khusus dengan Tuhan, dan dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari serta mampu memahami musik sebagai alat ekspresi.

Lahir Baru

Salah satu standar seseorang terlibat dalam pelayanan adalah sudah lahir baru. Seorang yang telah lahir baru tentunya membuka hati dan menerima kehendak Tuhan seperti halnya bumi menerima embun di waktu pagi, bagai akar yang tanpa bersuara menghisap zat-zat dari dalam tanah yang lembab. Seorang yang lahir baru juga bergantung sepenuhnya kepada Tuhan untuk menikmati persekutuannya yang manis dengan Tuhan.1
Kolose 3:12,16 mengatakan, seseorang yang sudah lahir baru tentunya memiliki sikap belas kasihan, kemurahan, rendah hati, lemah lembut, serta sabar dalam menjalani kehidupan bersama Kristus. Hidup dalam Kristus berarti diam dalam perkataan Kristus dan dengan segala hikmat mengajar dan saling menegur satu dengan yang lainnya, sambil menyanyikan mazmur nyanyian rohani dan puji-pujian, serta mengucap syukur kepada Allah.2
Salah satu contoh dapat dilihat dari seorang Darlene. “Darlene memiliki yang rindu untuk dapat membantu orang-orang yang terpinggirkan. Salah satu kegiatan pelayanannya adalah melakukan mission Trip ke Rwanda pada 2004 untuk memberitakan kasih Tuhan kepada mereka yang sempat dikucilkan masyarakat Internasional karena kerusuhan yang berlatar belakang SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan). Ia ingin menyampaikan kasih Tuhan, mengajak mereka untuk bangkit dan selalu berharap kepada Tuhan.3 Dari segelintir kisah kehidupan Darlene ini jelas bahwa sebagai seorang pelayan Tuhan dibidang musik juga dapat menyatakan dampaknya melalui kesaksian hidup baru di dalam Tuhan melalui penggunaan musik yang tepat untuk memuji Tuhan. selain itu, juga dapat dinyatakan melalui karakter hidup yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Memiliki Relasi dengan Tuhan

Bagian dari relasi merupakan salah satu bagian yang penting bagi kerohanian seorang pemain musik. Pemain musik yang membangun relasi yang baik dengan Tuhan memiliki spirit yang dapat membangkitkan semangat ketika memuji Tuhan, karena Roh Kudus yang ada dalam hidupnya memberikan kekuatan dan dampak secara spiritual. Bagian dari relasi tersebut digolongkan ke dalam 3 bagian:

Berelasi Melalui Doa

Doa merupakan komunikasi dengan Tuhan dalam arti yang luas. Ada empat hal berkaitan dengan komunikasi di dalam doa yang pertama meminta pengampunan, yang kedua mengutarakan kebutuhan, ketiga menaikkan permohonan diri sendiri, yang keempat menaikkan permohonan bagi orang lain. Dalam meminta atau memohon, yang biasa disebut dengan doa permohonan, penting bagi Allah maupun bagi mereka, karena Allah sangat mempedulikan mereka. Allah yang sangat mengasihi, Ia menghendaki supaya seseorang mengikut sertakan-Nya dalam segala keadaan yang dialami, dalam suka maupun duka, setiap hari dan juga di saat-saat krisis.4
Doa memberikan persiapan, membawa kepada hikmat Ilahi, meluaskan dan menguatkan pikiran untuk tetap teguh. Ruang doa merupakan guru yang sempurna bagi seorang pelayan Tuhan. Pikiran bukan saja menjadi terang karena doa, melainkan dari doa akan timbul pikiran-pikiran yang jernih dan memberikan solusi. Berdoa dengan sungguh, lebih penting dari pada belajar berjam-jam tanpa tuntunan Tuhan. Pembukaan rahasia Firman Allah diberikan di dalam ruang doa bagi seorang pelayan, yang tidak aka diperoleh di tempat lain5

Berelasi Melalui Pujian Penyembahan

Ada banyak hal yang ingin manusia ungkapkan kepada Allah. Apalagi Ia ingin menyatakan sesuatu kepada anak-anakNya. Manusia yang terbatas harus beranjak dari kemampuannya yang sempit dan terbatas untuk menyatakan isi hati ke tempat dimana kita dengan bebas dapat menggunakan seluruh bentuk penyembahan yang terdapat di dalam Alkitab.6
Mazmur 34:2 menyatakan, “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu: puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” Alkitab di atas mengatakan bahwa mereka harus mempersembahkan pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan terus-menerus senantiasa setiap waktu.7
Dalam 2 Tawarikh 5:11-14 (bahasa sehari-hari) semua imam yang berada di situ, dari semua kelompok, telah mempersiapkan diri untuk upacara itu. Semua penyanyi dan pemain musik dalam suku Lewi, yaitu Asaf, Heman, Yedutun dan seluruh anggota kaum mereka, memakai pakaian kain lenan. Orang-orang lewi berdiri di sebelah timur mezbah dengan memegang simbal dan kecapi. Bersama mereka ada 120 orang imam yang bertugas meniup terompet. Nyanyian para penyanyi berpadu dengan iringan musik terompet, simbal dan alat musik lain. Inilah kata-kata pujian yang mereka nyanyikan untuk TUHAN: “Pujilah TUHAN, sebab Ia baik. Kasih-Nya kekal abadi.” Pada waktu para imam keluar dari rumah TUHAN itu, tiba-tiba Rumah itu penuh dengan cahaya kehadiran TUHAN, sehingga mereka tidak dapat meneruskan upacara ibadah. Dari penjelasan di atas jelas bahwa hubungan dengan Tuhan melalui pujian itu penting bagi seorang pelayan Tuhan, karena melalui pujian dan penyembahan Tuhan dimuliakan.8

Berelasi Melalui Firman Tuhan

Seorang pelayan musik dan pujian yang efektif adalah ketika dalam pelayanannya mereka selalu mengandalkan Firman Tuhan sebagai landasan ibadah yang suci. Memahami Firman Tuhan dan menyimpan-Nya di dalam hatinya. Oleh karena itulah pelayan tersebut akan mempunyai pengetahuan tentang Allah. Pengetahuan ini seringkali tidak dijumpai pada banyak orang Kristen. Ada banyak orang yang dapat dipercaya dalam memegang jabatan sebagai seorang pemimpin pujian dan musik ibadah. Hal ini terjadi karena mereka memiliki kreativitas yang tinggi, memiliki pengetahuan tentang musik, serta mahir dalam menggunakannya.9
Firman Allah merupakan satu-satunya sumber kebenaran yang dapat diandalkan. Firman Allah perlu menjadi sesuatu yang menentukan apa yang kita percayai dan bagaimana kita harus hidup. Firman Allah kekal adanya. Melalui Firman Tuhan mereka dimampukan untuk menjaga langkah kehidupan dan langkah mereka yang dipimpin agar tetap berada di jalur Tuhan dan rencana-Nya.” Memang bakat dalam bermain musik itu penting dalam sebuah ibadah. Tetapi yang lebih penting adalah pengolahan yang benar dan mendalam tentang Firman Tuhan sering menjadi pemimpin pujian dan musik yang efektif. Mengenal Tuhan melalui Firman-Nya perlu menjadi prioritas utama orang-orang percaya, khususnya para pelayan Tuhan10
Selain menjadikan seseorang lebih efektif, Firman Tuhan menuntun kepada kehendaknya melalui pemberitaan dalam Alkitab. Banyak anak Tuhan dan Gereja yang tidak bisa menghadirkan kerajaan Allah di mana mereka berada, karena sulit menerapkan berkat rohani yang telah disediakan oleh Bapa di Surga (Ef. 1:3). segala berkat rohani (sukacita, damai sejahtera, dan hidup dalam kasih Tuhan) itu sudah Ia sediakan bagi orang-orang yang giat melayani Tuhan. Hanya persolannya adalah menghadirkannya di bumi yang tidak terlalu dimengerti oleh banyak orang.11
Banyak metode yang dapat digunakan dalam mengembangkan pelayanan, dan bayak pemikiran serta buku-buku tertentu yang dapat dipelajari. Tapi sebagai orang percaya tidak boleh metode lain menggantikan Alkitab sebagai bahan dasar dan metode Tuhan berbicara kepada setiap orang. Karena Tuhan biasanya akan menghidupkan ayat-ayat yang dibaca menjadi rhema.12

Menjadi Teladan

Seorang pemusik harus dapat menjadi teladan, karena mereka merupakan orang yang berada di atas panggung, yang dikagumi, disukai banyak orang dan orang yang dipopularitaskan. Jadi sebagai pemain musik ada 5 hal yang mesti dilakukan berdasarkan 1 Tim 4:12.

Menjadi Teladan dalam Perkataan

Pelayanan musik yang baik mengeluarkan kata-kata yang membangun, yang dapat memotivasi orang lain untuk mengenal Kristus. Jika mereka tidak dapat memotivasi dengan kata-kata yang dapat inspirasional, maka hal itu akan menghambat mereka untuk memuliakan Tuhan melalui teladan hidup akibat yang terjadi justru membuat kita tidak merasa tenang, apalagi saat melayani Tuhan misalnya saat seseorang menjadi pemimpin dalam ibadah, maka perlu untuk belajar mengucapkan kata-kata yang memberkati. Misalnya “Wow Anda begitu ceria hari ini” “Anda adalah seorang pemenang bahkan lebih dari pemenang.” Ucapan-ucapan yang positif ini membangkitkan emosi gairah dari jemaat, saat seseorang memimpin pujian, jemaat akan lebih bersungguh-sungguh dan responsive dalam penyembahan dibanding dengan kata-kata yang mengandung unsur tuduhan dan tekanan. Dengan berkata-kata positif, akan membangun kehidupan yang lebih baik lagi.13
Paulus juga ketika tidak bisa berada di tengah-tengah jemaat di Tesalonika, sekalipun sungguh merindukannya. Iblis memakai orang Yahudi untuk menghambat dan melawan Paulus dalam pelayanannya, bahkan mungkin akan membunuhnya. Memang secara fisik Paulus tidak hadir, tetapi hatinya selalu bersama jemaat Tesalonika. Secara manusia Paulus merasa sedih, namun tetap memiliki semangat dalam pemberitaan Injil. Jemaat di Tesalonika yang membawa kemuliaan Allah, membawa sukacita baginya.14

Menjadi Teladan dalam Tingkah Laku

Karakter yang baik diwujudkan melalui tindakan-tindakan kepedulian dapat dilihat dari kepedulian Paulus yang bukan hanya sekedar dinyatakan melalui kata-kata. Sebagai sahabat jemaat di Tesalonika pada waktu itu dia sungguh memberi perhatian, Paulus tidak meninggalkan mereka begitu saja, ketika jemaat Tesalonika sungguh memerlukan pertolongan rohani. Mereka perlu diajar dan dikuatkan dalam iman. Paulus mengutus Timotius yang dinilainya cukup dewasa dan tepat dipilih untuk meneguhkan iman dan memberi penghiburan serta nasihat kepada mereka. Maka Paulus mengutus Timotius untuk menolong jemaat yang akan ditinggalkannya. Timotius dinilai memiliki sifat pelayanan yang bermutu. Jelas bahwa dari tingkah laku yang peduli akan membangun iman orang lain. Sikap pelayan musik dapat diwujudkan dalam tim pelayanan, sehingga pelayanan dapat berjalan maksimal dan memuliakan Tuhan.15

Menjadi Teladan dalam Kasih

Sikap saling mengasihi satu dengan lain akan menjalin relasi yang baik terhadap sesama. Sebagaimana dalam kasih Allah itu Kudus, demikian juga kasih yang di wujud nyatakan kepada Allah yang adalah kasih dan kepada sesama manusia tentunya mendorong diri mereka untuk hidup di dalam kekudusan. Semakin giat orang Kristen hidup seperti Allah yang Kudus, maka orang Kristen akan lebih saling mengasihi satu dengan yang lainnya. Dengan saling mengasihi dan berjuang dalam menjaga kekudusan hidup.16

Menjadi Teladan dalam Kesetiaan

Untuk menjadi pemain musik yang bertumbuh, kesetiaan terhadap tim pelayan dan Gereja sebagai wadah akan membentuk suatu tim yang solid, menjadi teladan dalam kesetiaan sangat penting berkaitan dengan Iman Kesetiaan kepada Tuhan. Dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia ini, memerlukan tim yang bisa bekerja sama serta ikut ambil bagian dalam kehidupan kerajaan Allah, dan dapat bekerja sama melayani sebagai satu kesatuan yang utuh. Untuk menjaga keutuhan tim diperlukan kesetiaan dalam tim tersebut sehingga dapat menciptakan kesatuan yang luar biasa dalam pelayanan kepada Tuhan dalam mencapai tujuan yaitu memuliakan Tuhan.17

Menjadi Teladan dalam Kesucian

Menjaga kehidupan yang berkenan membantu untuk dapat merasa layak datang kepada Allah yang Kudus, karena Allah yang Kudus menghendaki seseorang untuk hidup Kudus dan memperjuangkannya. Berjuang dalam kekudusan memastikan bahwa mereka telah berdiri pada posisi yang terbaik untuk mendengarkan bisikan Roh Kudus. Hal ini menunjukkan ketergantungan kita kepada-Nya secara penuh untuk mengetahui langkah selanjutnya yang harus kita ambil. Sesungguhnya tidak penting seberapa banyak pengalaman yang sudah dimiliki, seseorang hanya perlu untuk bergantung pada-Nya. Kehidupan yang Kudus akan berdampak pada pelayanan yang penuh ucapan, penuh kuasa dan mujizat, seorang pelayanan musik harus tetap menjaga kehidupan yang Kudus dan berkenan kepada Allah.18

Memahami Musik sebagai Alat Ekspresi

Sebagai seorang pemimpin pujian dan musik yang memiliki standar, diperlu mengerti konsep tersebut dalam pelayanan. Misalnya saat mendengarkan orkestra simfoni. Hampir segala macam ekspresi dan perasaan dilukiskan melalui alat musik tersebut. Ada nuansa perasaan damai, ada gejolak sukacita, ada awan mendung kesedihan, dan ada kilat guntur ketegangan. Setiap perasaan itu dilukiskan dengan menggunakan alat musik yang tepat. Menarik untuk diperhatikan bahwa ini tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik jikalau di sepanjang konser tersebut semua alat musik dimainkan secara bersama-sama. Namun, sebaliknya apabila alat musik yang berbeda-beda memungkinkan terciptanya suasana yang tepat, sesuai dengan yang ingin di ekspresikan musik tersebut.
Saat orang berada di gereja, sangat perlu menyimak konsep-konsep tersebut. Kita harus lebih peka dalam mendengarkan dan menggunakan musik. Dalam memuji dan menyembah Tuhan sebaiknya berusaha untuk peka tentang bagaimana supaya dapat mengiringi sesuai dengan Roh Kudus melalui musik yang dimainkan. Menurut pengamatan beberapa orang, musik pujian dan penyembahan di kalangan gereja sudah seperti masuk blender. Semua lagu yang dinyanyikan cenderung sama sehingga untuk mengekspresikan suasana hati Allah. Maka harus ada variasi dalam apa yang akan dilakukan.
Untuk meningkatkan kepekaan seseorang perlu menggunakan setiap instrumen yang digunakan untuk menjadi alat musik ekspresi. Seperti halnya sebagai pelayan musik, sangat penting bagi seseorang untuk secara cermat memilih, alat-alat mana yang akan sangat efektif dalam melukiskan apa yang hendak dikatakan dalam ibadah. Seorang pelayan musik, juga perlu peka terhadap berbagai nuansa yang berbeda-beda, yang tentunya dapat mendukung ibadah yang sedang berlangsung. Maka dari itu disarankan untuk menggunakan alat musik yang dimiliki menurut potensinya masing-masing, dan sebaiknya untuk tidak menggunakannya secara berlebihan.19
Perlu disadari juga bahwa di dalam musik ada sebuah kekuatan yang penuh kuasa, yang diciptakan Allah untuk menggugah perasaan seseorang secara khusus. Mereka sangat bersyukur karena mereka dapat menikmati suara musik yang indah yang ada di sekeliling mereka.20
Dalam melakukan semuanya ini sebagai pemimpin pujian dan pelayan musik perlu menjadi teladan. Ada kalanya seseorang mengalami situasi di mana mereka harus memimpin musik yang hanya menggunakan alat gitar. Sebagai vokalis ada kalanya kita harus berhenti menyanyi atau setidaknya mundur beberapa waktu dari pengeras suara. Kadang-kadang itu disebabkan karena lagu tersebut hanya perlu diiringi oleh seorang vokalis wanita yang lembut suaranya, dan ada kalanya pemimpin memberi kesempatan untuk jemaat perlu saling mendengar suara mereka dalam memuji dan menyembah Tuhan. Jadi perlu untuk belajar menjadi peka dan kreatif dalam memainkan musik demi mendukung apa yang akan Tuhan lakukan. Jikalau seseorang tidak memperhatikan musik dengan baik setidaknya dia akan kehilangan sebagian dari maksud dan tujuan Tuhan bagi mereka dan pelayanan mereka.21
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2000.
Bounds, E. M. Kuasa Karena Doa. Diterjemahkan oleh S. Priyoso. Surabaya: YAKIN, t.t.
Daughterty, Billy Joe. Pujian dan Syukur. Disunting oleh Ostaria Silaban. Diterjemahkan oleh Grace M. Hadikusuma. Jakarta: META NOIA, 2000.
Krauter, Tom. Kunci Keberhasilan Pemimpin Pujian dan Musik. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2001.
Mike dan Viv Hibbert. Pelayan Musik. Diterjemahkan oleh Hariyono dan Qavier Q. P. Yogyakarta: ANDI, 2010.
Ndoen, Bram Soei. Revolusi Penyembahan Propetik. Yogyakarta: ANDI, 2007.
Redman, Matt. Menyembah dalam Roh dan Kebenaran. Diterjemahkan oleh Vera. Yogyakarta: ANDI, 2010.
Sarangi, Winarso. Misi Musik. Yogyakarta: ANDI, 2008.
Suprapto, Gideon dan Dwi Areifin. Rancangan Allah bagi Gereja. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2002.
Tjandra, Jeffri S. “Pujian Penyembahan.www.google.com. Diakses pada tanggal 16 Maret 2010.
Warren dan Ruth Myers. Puji-Pujian: Pintu Menuju Hadirat Tuhan. Disunting oleh Doreen Widjana. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1990.
Zschech, Darlene. Extravagant Worship. Disunting oleh Dina Simbolon. Diterjemahkan oleh Paula Allo. Jakarta: Immanuel Publishing House, 2004.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar